Kegagalan adalah sebuah peringatan!!!

Hampir dua minggu berlalu sejak saya mendapat keputusan dari Program Pasca Sarjana UNDIP bahwa saya tidak lolos tes masuk mahasiswa baru Pascas UNDIP. Sedih? tentu. Kecewa? Iya. Karena selama hampir dua minggu bolak balik mengurus semua persyaratan untuk pendaftaran.

Tapi kegagalan ini adalah pengalaman yang SANGAT BERHARGA buat saya. Saya jadi introspeksi diri mengenai persiapan-persiapan yang seharusnya bisa saya lakukan jauh-jauh hari. Karena terus terang, saya tidak menyiapkan apapun untuk tes masuk. Jangankan tes kelimuan IT -bidang yang saya geluti-, tes potensi akademik dan psikotest pun tidak saya pedulikan waktu itu. Saya pikir, tes ini hanya sebuah prosedur yang sifatnya formalitas saja. Ternyata….

Paling tidak, saya jadi tau rasanya tes masuk jadi mahasiswa S2 hehehehe… coba beberapa taun ke depan aja lagi dah πŸ™‚

dan berikut sedikit oleh2 dari UNDIP:

This slideshow requires JavaScript.

Catatan Perjalanan Pendakian Ceremai ke-2 #10. Menuju bumi kembali… (Tamat)

Suatu saat… kita akan menyadari betapa berharganya perjalanan-perjalanan asing ini

 

Walau masih sedih karena kami tak bisa berlama-lama di puncak, kami tetap terus melangkahkan kaki diantara bongkahan-bongkahan batu besar yang di beberapa tempatnya menjadi batu peringatan bagi mereka yang telah berpulang di gunung ini. Panas yang menyengat karena matahari semakin tinggi membuat kami ingin segera menemukan tempat untuk berteduh dan mendinginkan kepala kami.

Pukul 10.50, kami tiba di Pos Goa Walet. Di goa inilah kami mengisi kembali tempat-tempat air kami, karena di dalam goa terdapat genangan air yang terkumpul dari rembesan tebing-tebing goa yang menjulang. Continue reading

Catatan Perjalanan Pendakian Ceremai ke-2 #9. Puncak…

Elang muda belajar terbang
Dalam heningnya pegunungan
Sendiri, tiada teman

 

Hari 3: Sabtu, 18 April 2009

Pukul 05.10, matahari menyapa kami. Kami segera keluar tenda, menggerak-gerakkan tubuh yang kaku, sambil bercengkrama menikmati matahari terbit yang sangat indah. Kami dapat menyaksikan pemandangan kota-kota di bawah kami. Perbatasan pulau jawa bagian utara dengan laut jawanya terlihat jelas. Begitu pula dengan gunung Slamet dan puncak gunung Sindoro-Sumbing.

Continue reading

Catatan Perjalanan Pendakian Ceremai ke-2 #8. Riak menuju Pengasinan

Tak ada yang lebih menguatkan jiwa,
Selain genggaman erat para sahabat,
Saat hati merenggang cinta,
Untuk ego dan kenikmatan sesaat

Pukul 12.35, Kami tiba di Pos Pengalap (1790 mdpl) setelah sebelumnya melewati pos Kuburan Kuda. Pukul 12.53, Kami tiba di pos Tanjakan Binbin (1920 mdpl) . Perjalanan kami lanjutkan menuju Tanjakan Seruni (2080 mdpl) lalu tiba di tujuan kami, pos Bapa Tere (2200 mdpl) pukul 15.30. Ada sebuah pohon tumbang dan melintang di tengah pos ini.

Tanjakan seruni

Di pos ini kami beristirahat cukup lama sekitar 2 jam untuk tidur, makan siang, mengosongkan kandung kemih, dan mengepak kembali barang-barang kami. Ari memasak dibantu beberapa orang lainnya. Kami makan nasi dengan mie, pilus, dan kripik bayam. Makan siang yang sangat mewah! Sementara kami makan, seekor burung yang cukup besar hinggap di sebuah batang pohon tak jauh dari kami. Menurut Ari, burung itu menunggu sisa makanan kami untuk disantapnya.
Continue reading

Catatan Perjalanan Pendakian Ceremai ke-2 #7. Menemukan jalan

Tak terlalu sulit menggambarkan sebuah perjalanan
Saat lelah dan kesulitan di depan mata,
Riangnya tawa sahabat adalah penyemangat bagi kaki untuk kembali berlari

Hari 2: Jum’at, 17 April 2009

Cahaya merah menyapa kami dari sela pepohonan. Pagi menjelang, menyambut kami dengan hembusan udaranya yang dingin. Beberapa teman telah membuka mata dan bercengkrama tanpa beranjak dari tempat dimana mereka mengendapkan lelah. Dari dalam tenda, saya mendengar Cahyo tampak asyik berbincang melalui handphone dengan kekasihnya (Rupanya sinyal untuk seluler yang digunakannya begitu kuat! Tidak dengan saya. Bahkan untuk mencari satu sinyal saja susahnya minta ampun!).

Continue reading

Catatan Perjalanan Pendakian Ceremai ke-2 #6. Melelap hati di bawah kanopi

Seperti juga pelangi yang memberi jalan bagi para bidadari
Matahari dan Cahaya rembulan adalah jiwa bagi keringnya hati
Saat mata terlalu dini untuk melelap mimpi

 

Saya tak pernah berpikir atau meyakini bahwa apa yang kami alami selanjutnya adalah TERSASAR! Saya sepenuhnya percaya pada Allah dan pada Ari, leader kami. Bagaimana pun gunung Ciremai ini telah menjadi rumah keduanya. Sudah puluhan kali Ari melewati jalan ini dalam berbagai kondisi, termasuk malam dengan kondisi hujan. Dan ini yang membuat saya tak merisaukan apapun, termasuk ketika kami benar-benar kehilangan jalan!
Continue reading

Catatan Perjalanan Pendakian Ceremai ke-2 #5. Berbagi beban

Alam memberikan dua dimensi yang berbeda
Memberi kebebasan jiwa untuk memilih dan menikmatinya
Apapun itu…. berbahagialah

 

Dengan ditutupi jas hujan warna warni, kami meninggalkan pondokan dan menuju pos pendaftaran. Di jalan beberapa orang penduduk tampak di depan rumah mereka dan berbincang-bincang di dinginnya malam. Mereka menyapa kami, kami membalas dengan senang. Mereka memang sudah tak asing lagi dengan anak-anak muda seperti kami yang selalu mereka temui setiap harinya di jalanan desa ini. Menurut saya, mereka adalah penduduk yang beruntung karena berada di alam yang menyimpan banyak misteri hingga banyak orang datang mencari jawaban dari misteri alam mereka. Andai saya diberi kesempatan tinggal bersama mereka, di dusun tenang ini, mungkin saya akan sering mendaki dan mengagumi keindahan alam ini.
Continue reading

Catatan Perjalanan Pendakian Ceremai ke-2 #4. Dan hujan menyambut kami di heningnya alam

Tertidur lelap dalam buaian malam
Berteman bintang dan rembulan
Berselimut dinginnya angin yang berhembus pelan
Bermimpilah…bermimpilah…

 

Semua persiapan saya serahkan sepenuhnya pada Dimaz. Dia sangat bertanggung jawab akan hal ini. Dan saya sangat mensupport apapun yang direncanakannya. Walau hanya pendakian kecil, persiapan adalah sesuatu yang harus diperhatikan dengan baik. Mengingat kami bukan hendak pergi ke kota dengan banyak restaurant di mana-mana atau tempat jajan berlimpah. Kami akan bergabung bersama alam, tidur di alam, makan dari alam, intinya hidup dalam keterbatasan alam.

Hari 1: Kamis, 16 April 2009
Continue reading

Catatan Perjalanan Pendakian Ceremai ke-2 #3. Sahabat-sahabat yang bersemangat

Suara angin dan gesekan daun
Kegembiraan alam yang riang
Bercengkrama dalam bahasa mereka
Bersama-sama menanti hujan redamkan dahaga

Hari itu, senin, 13 april 2009, setelah rencana pendakian di forum dan rencana untuk meminta Ari menemani saya di pendakian ini, saya mengawali pagi dengan sapaan konyolnya di jalan.

Pagi itu, saya sedang bersemangat dengan motor matic biru kesayangan hingga ketika berada di jalan menuju kampus, seseorang berteriak ke arah saya: β€œMba, minggir mba!”

Saya tidak terlalu kaget. Saya sangat hafal siapa yang mencoba mengganggu saya di jalan, Ari. Dia dengan motor maticnya berada di dekat saya dan tertawa kecil. Saya mengangguk dan tersenyum kecil.

Ada yang berbeda dengan Ari pagi itu, Continue reading